Selasa, 26 April 2011
Minggu, 27 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
Duo Ratu Porno
Jessica Steinhauser dan Maria Ozawa. Jessica, perempuan kelahiran New York 06 Agustus 1973 adalah blasteran dari ayah seorang berkebangsaan Jepang dan Ibu yang berkebangsaan Jerman. Selanjutnya, dalam perjalanan waktu, karena mabuk vodka dan pemberontakan atas situasi keluarga yang menurutnya bagai penjara, Jessica yang cantik menceburkan diri dalam kubangan lendir. Dia bukan lagi Jessica yang polos dan lugu, tetapi telah berubah menjadi Asia Carera yang licin dan lincah. Suaranya tidak lagi sendu, tetapi pekat dengan desahan.
Di kubangan lendir dia berenang antara Asia dan Amerika, dia bahkah ditahbiskan menjadi ‘Ratu Porno Sepanjang Masa’ hingga tiba suatu ketika, ia memutuskan menepi ke daratan, mengelantangkan dirinya jadi seperti Jessica sedia kala. Penyakit ADIS yang menderanya seperti cubitan ubur-ubur yang menyengat. Dia pun sadar. “Aku akan memberikan segala kekayaan yang aku punya untuk amal sosial”.
Seusai Asia Carera, muculah Maria Ozawa. Wanita jelita kelahiran Hokkaido Jepang, 8 Januari 1986 tampil lebih imut dan manja. Kendatipun lahir dari keluarga blasteran, dari sang ibu yang asli Jepang dengan Bapaknya yang berasal dari Perancis, keturunan Canada, Ozawa masih tetap tampak sebagai wanita Sakura. Tatapan matanya yang dingin, lengkung bibir dan paduan tinggi hidung kecil pada tubuh yang sintal dan bening menampilkan Ozawa sebagai pribadi yang dingin dan lembut. (read more)
Pesan Gaib Bung Karno
Demikianlah pesan gaib Bung Karno yang disampaikan kepada Kusumo Lelono, seperti yang ditulisnya dalam ‘Satrio Piningit’ (Gramedia Pustaka Utama/1999). Menurut Lelono, Bung Karno menggunakan kepercayaan masyarakat akan ramalan Prabu Jayabaya untuk membangkitkan semangat keberanian yang tinggi di kalangan rakyat pada massa perjuangan. Jadi tidak heran, jika hingga kini getar suara Bung Karno itu masih terasa di denyut nadi perjuangan kita, dan sosoknya pun seperti masih bernyawa.
Menurut Lelono, berdasarkan manuskrip kuno Ramalan Prabu Jayabaya, seorang raja yang pernah tercatat memerintah kerajaan kediri pada abad ke-12 (1137-1159) bahwa saat ini Indonesia sedang berada dalam masa antara akhir zaman Kalabendu dan sedang menanti kehadiran zaman Kalasuba. (read more)
Kamis, 20 November 2008
Lonte, Anjing dan Bodoh
Tiga kata: Lonte, Anjing dan bodoh. Tiga kata itu bergantian meluncur dari mulut Lilis dan Neneng ketika keduanya berjumpa merebut tempat terseksi, tercantik dan teraduhai di mata penonton pub Bintang Kejora. Keduanya saling mengumpat, mencela. ‘Lonte teriak Lonte’ umpat salah seorang dari mereka, sebelum keduanya benar-benar dibakar amarah selanjutnya adu otot. Berkelahi.
Dua ‘lonte’ itu adalah tokoh sentral dalam ‘Arwah Goyang Kerawang’, sebuah film horor produksi Sentra Mega Kreasi besutan sutradara Helfi Kardit. Film berdurasi 90 menit itu mengisahkan tentang Lilis yang terpaksa kembali menjadi penari disebuah group tari jaipong Goyang Kerawang, setelah sekian lama dunia yang dulu pernah membesarkan namanya itu dia tinggalkan demi sebuah perkawinan. Aji sebagai suami Lilis, tidak lagi bisa mencegah karena Aji tidak berdaya karena kondisi ekonomi rumah tangganya berantakan sejak dirinya di-PHK dan menganggur.
Kembalinya Lilis ke dalam grup rupanya membuat perubahan yang luar biasa. Pada setiap penampilanya di atas panggung, Lilis selalu saja menjadi pusat perhatian pengunjung pub Bintang Kejora. Sebagai primadona group Goyang Karawang saat ini, Neneng merasa terancam dengan kembalinya Lilis dalam group. Dengan segala cara Neneng berusaha mempertahankan posisinya, apa lagi untuk meraih predikat itu memerlukan perjuangan dan pengorbanan luar biasa bagi Neneng.Kehebatan Lilis menggoyang panggung dan menguras kocek pengunjung membuat Pak Awal sebagai pemilik pub menempatkan Lilis sebagai bintang utama menggantikan Neneng dan tentu saja, persaingan keduanya semakin seru. (read more)
Langganan:
Entri (Atom)